Di Cianjur Warga Keluhkan Limbah Galian Pasir Kotori Air Sungai

Header Menu

Cari Berita

Slider

Advertisement

Di Cianjur Warga Keluhkan Limbah Galian Pasir Kotori Air Sungai

REDAKSI
Selasa, 15 Mei 2018




CIANJUR - Cek Update
Warga Kampung Cibeleng Hilir,Desa Cikancana,Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur,Jawa Barat.Mengeluhkan kualitas air sungai yang tercemar yang di duga dari saah satu kegiatan galian pasir di Kecamatan Gekbrong.

Berdasarkan pantauan di lokasi sepanjang sungai dari tiga desa diantaranya Desa Cikahuripan, Desa Cikancana dan Desa Sukaratu yang paling terkena dampak dari aliran air limbah galian pasir tersebut.

Tidak hanya itu saja, kolam - kolam budidaya ikan milik warga dan anak sungai kecil yang masuk ke wilayah permukiman warga mengakibatkan pendangkalan.

Tokoh masyarakat Kampung Cibeleng Aang Saeful Bayan mengatakan, jika limbah galian pasir yang ada di Kecamatan Gekbrong membuat warna air menjadi coklat pekat. " "Akibatnya warga kesulitan untuk menggunakan air bersih untuk keperluan sehari-hari," tuturnya kepada para awak media Selasa (15/5/2018).

Aang mengatakan,jika limbah tersebut mengotori aliran sungai utama yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat. Pendangkalan kolam ikan, susah nyuci ataupun susahnya menanak nasi adalah sebagaian kecil dari akibat limbah itu.

"Bisa dilihat sendiri sama akang akang sumur yang memang resapan airnya dari sungai ikut tercemar," paparnya

Aang berharap sebisa mungkin galian pasir tersebut dihentikan saja demi kemaslahatan masyarakat sekitar. Ataupun kalau memang tidak mungkin, pihak perusahaan wajib menyalurkan Coorporate Social Responsbility (CSR) kepada masyarakat untuk dipergunakan membangun MCK ataupun memperbaiki selokan.

"Kami sangat terganggu sekali keberadaan galian pasir itu, saya harap dinas terkait khususnya Pemprov Jabar agar mengevaluasi kembali ijin kegiatan galian pasir tersebut," harapnya

Sementara Kepala Desa Cikahuripan Irwan Kustiawan mengatakan, jauh - jauh hari memang sudah menjadi perbincangan bersama Kepala Desa Cikancana Deden Saeful Rohmat untuk meminta kejelasan terkait dampak dari limbah yang dibuang oleh galian pasir tersebut.

"Hingga saat ini saya belum tahu hasilnya seperti apa?," ungkap Kades Cikahuripan Irwan Kustiandi saat dihubungi.

Adapaun terkait ijin lingkungan dari warga yang dimiliki oleh galian pasir lanjut Irwan, pihaknya hanya bisa memberikan rekomondasi, dan itu pun atas kesepakatan warga. Sedangkan untuk ijin UPL dan UKL ada di ranah dinas terkait.

"Kalau ditanya kadar limbah seperti apa? Bisa langsung ditanyakan ke pihak dinas terkait apakah galian pasir itu punya ijin apa belum silahkan tanya langsung ke pihak yang terkait," katanya.

Ia mengatakan, sesuai dengan PP nomor 40 tahun 2007 kewajiban perusahaan harus mengeluarkan dana coorporate Social Responsbility (CSR). "Saya sudah menekankan kepada pihak perusahaan agar ada program CSR untuk masyarakat khususnya yang terkena dampak," katanya.

Menurutnya, limbah yang dibuang oleh galian pasir ke sungai dalam satu minggu bisa 2 kali. "Kalau dari pengakuan pihak galian pasir katanya setiap hari dibuang, tapi saya sudah memberikan saran kepihka galian diharuskan membuat kolam - kolam penampungan. Dan sebetulnya saran tersebut bukan ranah seorang Kepala Desa, melainkan dinas terkait.

"Kalau dilihat secara nyata memang limbah galian pasir itu akan sangat berdampak sekali kepada warga masyarakat karena airnya sangat kotor, tapi lebih pastinya pihak dinas terkait yang lebih memahami itu," ujarnya.


Reporter : Dedy
Redaktur : Jack