Adukan Nasib,Ratusan Petani Penggarap Cianjur Temui Maruarar Sirait

Header Menu

Cari Berita

Slider

Advertisement

Adukan Nasib,Ratusan Petani Penggarap Cianjur Temui Maruarar Sirait

REDAKSI
Minggu, 20 Januari 2019



CIANJUR - Cek Update
Anggota DPR RI komisi XI Maruarar Sirait temui ratusan petani penggarap lahan Hak Guna Usaha (HGU) yang berada di Kecamatan Cibeber, Kecamatan Campaka dan Kecamatan Campakamulya, Kabupaten Cianjur.

Kunjungan politikus dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan yang kini tengah bertarung kembali di pemilihan legislatip (Pileg) Dapil III Kabupaten Cianjur dan Kota Bogor tersebut, yakni ingin memfasilitasi kepastian para petani. Terkait status tanah garapnya yang selama ini sudah menjadi tumpuan hidup keluarganya.

"Secepatnya kita akan fasilitasi pertemuan antara pihak perwakilan para petani dan perusahaan yang selama ini menurut mereka belum pernah terwujud," tuturnya saat di konfirmasi kemarin Sabtu (19/1/2019).

Ara panggilan akrabnya mengatakan,pertemuan tersebut nantinya akan membahas solusi bagaimana cara mengambil jalan keluarnya, agar dari pihak para petani dan perusahaan sama-sama tidak dirugikan.

"Kita cari jalan keluarnya,agar para petani mendapatkan haknya serta dari perusahaan juga tidak di rugikan,apalagi lahan petani merupakan salah satu program presiden Jokowi yang sudah dilakukan diberbagai wilayah Indonesia," paparnya.

Rahmat (54) petani dari Desa Cibokor menuturkan, alasan selama ini pihaknya bersama ratusan petani lainnya menggarap lahan HGU tersebut, karena menurutnya dianggap sudah tidak produktif lagi alias terlantar sejak beberapa tahun terakhir ini.

"Kami hampir sudah lima tahun menggarap lahan HGU itu pak, untuk bercocok tanam seperti tanam singkong, jagung dan pisang," ungkapnya.

Rahmat menceritakan, perlakuan tidak layak pun sempat dialaminya oleh perusahaan yang mengklaim memiliki ijin resmi HGU seluas 900 hektar tersebut, dengan menggunakan beberapa oknum aparat untuk mengusirnya agar tidak lagi bercocok tanam di wilayahnya.

"Sehingga berbagai upaya mendapatkan hak kami pun sudah di tempuh yakni ingin mendapatkan sertifikat tanah," terangnya.

Sementara itu, Yudi Junaidi pendamping para petani dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Cianjur mengatakan, lahan yang diklaim kembali oleh Perusahaan tersebut. Selain lahannya sudah terlantar sejak beberapa tahun lalu.

Prusahaan tersebut juga diduga sudah tidak memiliki pabrik, karyawan dan penunjang lainnya, meskipun ijin HGUnya masih berlaku sampai tahun 2024.

"Jadi sejak lahan tersebut di garap para petani membuat pihak prusahaan menggunakan berbagai cara untuk menguasi kembali lahan tersebut, termasuk intimidasi menggunakan oknum aparat berseragam. Sehingga para petani meminta kepada kami untuk melakukan advokasi, dengan harapan mendapatkan haknya para petani,"tukasnya.

Reporter : Dedy