Pocari Sweat Wujudkan Wilayah Kuta Menuju Kampung Kelinci

Header Menu

Cari Berita

Slider

Advertisement

Pocari Sweat Wujudkan Wilayah Kuta Menuju Kampung Kelinci

REDAKSI
Rabu, 31 Juli 2019



SUKABUMI - Cekupdate
Demi mensejahterakan serta meningkatkan ekonomi masyarkat khususnya di lingkungan perusahaan, PT Amerta Indah Otsuka atau yang dikenal dengan sebutan pabrik minuman isotonik Pocari Sweat itu menggandeng Gerakan Masyarakat Melestarikan Hutan (Gammelan) wujudkan wilayah Kampung Kuta menjadi "Kampung Kelinci".

Hal tersebut di ungkapkan GA & Legal Direktur PT. Amerta Indah Otsuka, Tri Junanto wicaksono bahwa, selama ini pihaknya sudah cukup lama melakukan kerjasama baik dengan gamelan maupun masyarakat sekitar mulai dari ternak Lele, Kambing, dan lain sebagainya.

"Nah kenapa sekarang kita bicara Kelinci, karena Kelinci itu mudah berkembang biak sehingga bisa lebih banyak masyarakat yang ikut berkontribusi," ungkapnya disela kegiatan peninjauan Ternak Kelinci di Kampung Kuta, Desa Kutajaya Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Rabu (31/07).

Menurutnya, melalui Kampung Kelinci ini Efek ekonomi bisa menyebar ke masyarakat yang lain tidak hanya di Gammelan saja. "Jadi skema kerja kita  dengan gamelan, ketika indukan Kelincinya sudah berkembang biak maka kewajiban Gammelan menyerahkan kepada kelompok lain sehingga bisa terus berkembang. Tidak hanya fokus kepada Satu kelompok tapi menyebar, makanya cita-cita kita untuk menjadikan Kampung Kelinci bisa terwujud," tuturnya.

Selanjutnya kata Junanto, kurang lebih ada 100 bibit kelinci yang diberikan kepada Gammelan dengan berbagai jenis, mulai dari kelinci Daging, Hias, hingga kelinci peliharaan. "Dengan demikian saya berharap masyarakat dapat mengembangkan ekonomi dari kelinci ini bisa berkembang lebih banyak sehingga bisa terwujudnya wisata Kampung kelinci," harapnya.

Sementara Ketua Gammelan Uci Sanusi menambahkan, dari 100 ekor indukan kelinci ada 3 jenis sesuai pilihan mulai dari jenis lokal, hias dan new Zealand.

"Untuk harganya sendiri sangat berfariasi, untuk New Zealand usia 3-6 bulan rata-rata 500 ribu per ekor, untuk hias 300 ribu, kalau lokal 75 ribu kemudian untuk nilai ekonomis kedepannya kami lebih fokus di pengembangan anaknya, karena saya rasa lebih gampang. Usia 3 Minggu saja anak kelincinya sudah bisa kita jual sementara untuk kelinci daging butuh waktu 3 sampai 4 bulan," jelasnya.

Lebih lanjut kata Uci, untuk pemasaran sendiri pihaknya sudah bekerjasama dengan Bogor Rabbit Center (BRC) mereka akan menampung semua jenis kelinci. "Oleh sebab itu dari bantuan ini kita akan coba pilih calon induk tersebut akan kita sisihkan dan dipelihara kembali untuk dibagikan ke kelompok lain di masyarakat sekitar kita," pungkasnya.

Reporter : Fa'is