Bupati Bogor: 5 Kecamatan Masih Menjadi Wilayah Berisiko Tinggi Penularan Corona

Header Menu

Cari Berita

Slider

Advertisement

Bupati Bogor: 5 Kecamatan Masih Menjadi Wilayah Berisiko Tinggi Penularan Corona

REDAKSI
Jumat, 05 Juni 2020

Bupati Bogor Ade Yasin

CU NEWS ■ Bupati Bogor Ade Yasin menyebutkan masih ada lima kecamatan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang menjadi wilayah berisiko tinggi penularan virus corona.

"Lima kecamatan itu adalah Gunung Putri, Bojonggede, Cileungsi, Cibinong, dan Tajur Halang," ujarnya usai rapat di kantornya, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jumat (5/6).

Sejak penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) proporsional secara parsial pada 5 Juni 2020, Pemkab Bogor mengklasifikasikan 40 kecamatan di wilayah itu berdasarkan tingkat risiko penularan COVID-19.

Tercatat ada 28 kecamatan berisiko sedang, dan tujuh kecamatan berisiko rendah, yaitu Tanjungsari, Tenjo, Tenjolaya, Sukamakmur, Sukajaya, Cijeruk, dan Jasinga.

"Kami telah melakukan perhitungan dengan menggunakan enam variabel untuk mendapatkan hasil tingkat kewaspadaan di tingkat kecamatan dengan kategori rendah, sedang dan tinggi," bebernya.

Ade Yasin mengatakan angka reproduksi efektif Kabupaten Bogor masih 1,2 poin berdasarkan Bappenas, sehingga belum bisa melaksanakan fase normal baru yang angka reproduksi efektifnya harus di bawah 1 poin.

"Kami terus melakukan upaya untuk menekan angka reproduksi, melalui penambahan jumlah rapid test dan swab di lokasi-lokasi keramaian, melakukan tracing, mewajibkan penggunaan masker dan upaya lainnya," kata Ketua Gugus Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Bogor itu.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemetaan Kebencanaan dan Perubahan Iklim Badan Informasi Geospasial (BIG), Ferrari Pinem mengatakan bahwa wilayah berisiko tinggi penularan COVID-19 di Kabupaten Bogor merupakan wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan wilayah lain yang ada di kabupaten itu.

Hal itu dibuktikan dengan data kepadatan penduduk dimana titik konsentrasi kejadian berada pada desa atau kelurahan yang sebagian besar memiliki kepadatan penduduk lebih dari 100 jiwa per hektar.

"Dengan kata lain, potensi risiko masih tinggi karena episentrum berada pada wilayah dengan kecamatan yang padat penduduk," kata Ferrari.

Menurutnya, dari peta yang ada juga menyimpulkan bahwa wilayah yang menjadi konsentrasi kejadian positif COVID-19 adalah wilayah yang berasosiasi dengan akses transportasi utama wilayah Bogor-DKI Jakarta.

"Akses utama tersebut meliputi jalur kereta rel listrik (KRL), jalan arteri (Jalan Raya Jakarta-Bogor), maupun jalan tol (Jagorawi)," ucapnya. (Antara/JP/R-01)